Nurul Aini Huda

“Yang bener aja, mana bisa gue memerankan sosok ukhti yang super kalem dan cupu!”

Masih ingat bagaimana aku berseru kepada kawan-kawan BSO teaterku, ketika mendapat peran sebagai seorang mahasiswa alim ala aktifis dakwah di kampus-kampus. Tapi, sekali lagi, mana mungkin menolak titah ketua produksiku yang sudah disibukkan dengan seabreg persiapan pementasan besar tiga bulan lagi. Meskipun Bayu –begitu ketua produksiku akrab disapa- adalah kawan sekomplotanku di kampus, namun kami tetap professional menjalankan tugas besar ini.

Pementasan yang bagi kami, anak-anak Teater adalah momen yang selalu ditunggu tiap tahun, maka tentu persiapan ini tidak akan kami sia-siakan. Berlatih siang malam, bahkan mengosongi absen demi maksimalnya persiapan dengan sukarela kami lakukan.

“Gapapa sih Bi. Lagian, setelah dipertimbangkan anggota BSO kita yang pake kerudung kan lu doang. Dan lu adalah pilihan terbaik dari yang terbaik buat memerankan itu. Buat sekelas lu, yang sangat piawai menjiwai peran, ngga susah menurut gue” Bujuk Bayu untuk kesekian kalinya.

“Hmm… dan sekarang gue gatau harus mulai darimana” Kutinggalkan Bayu yang masih memasang muka membujuk, melangkah tak bersemangat menuju aula.

“apa sih yang ngga Nirbita bisa, kalo mau usaha” setengah berlari, Bayu menjejeri langkahku menuju tempat latihan pementasan sembari bergumam meyakinkan.

***

Dua jam sudah aku memandangi naskah pementasan ogah-ogahan. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, menonton setiap kepala yang sedang asyik bermain peran. Jujur saja, aku tipikal yang sangat perfeksionis dalam hal bermain peran. Berbagai macam cara kulakukan untuk bisa menjiwai peran yang kumainkan. Tiga tahun bergelut di BSO Teater, siapapun sudah tau bagaimana piawainya aku memainkan setiap peran yang diberikan.

Masih menekuri naskah pementasan setengah hati, menelanjangi kalimat demi kalimat. Cerita pementasan kali ini cukup menarik memang, beranjak dari cerita-cerita pementasan yang biasanya diangkat tentang budaya, politik, ironi masyarakat kelas bawah. Namun pementasan kali ini mencoba untuk mengangkat isu radikalisme kampus dan nasionalisme yang hari ini sedang didengungkan berbagai kalangan.

Sementara, aku yang katanya dianggap paling bisa memerankan sosok perempuan aktifis dakwah kampus yang kalo tidak salah sering disebut “akhwat” itu, dengan segala ketidaktahuanku bagaimana sekarang aku harus mendalami peran. Masih nyinyir dengan ucapan Bayu, karna aku satu-satunya perempuan di BSO Teater yang berjilbab, padahal alasan aku berjilbab dulu pun, karna tidak mau ketinggalan trend kekinian. Bukan sepenuhnya kesadaran menutup aurat.

Kemudian, aku yang banyak tingkah, doyan mengumpat apalagi ngomong kasar, hobi kelayapan sana sini, kerudungan bongkar pasang tergantung trend kekinian, demi menjiwai peranku, harus bermanis-manis dengan mbak-mbak penunggu musola yang entah diem atau jutek itu aku tak bisa membedakan. Entahlah.

***

Dua hari berlalu, dan aku masih menemui jalan buntu mau diapakan naskah pementasanku

“Hai Kak Nirbita!” Seseorang membuyarkan lamunan keputusasaanku dengan serta merta.

“Eh hai. Kayak ngga asing sama kamu.” Aku berusaha tetap ramah, meskipun sedang bersusah mengingat siapa perempuan manis yang menyapaku ini. Sembari mengamati penampilannya yang tampak rapi dan modis dengan terusan hitam dan outer merah jambu-nya dipadupadankan senyum yang tersungging sangat menyenangkan.

“Kenalin kak, aku Aruni. Adek tingkat sosiologi kakak, kita sekelas kok. Kakak ngulang sosiologi kota kan?” Lanjutnya dengan wajah tanpa dosa. Nih anak, berani amat sok akrab.

“Haha tau aja. Ada apa Run?” Timpalku singkat, tanpa menghapuskan senyum ramah sebagai pencitraan baik kepada orang yang baru mengenalku.

“Jadi gini kak Bi, aku kan jadi salah satu relawan di rumah jalanan. Semacam ngajarin adek-adek yang lebih seneng idup di jalanan itu, belajar di ruang-ruang yang menyenangkan. Ada banyak kelas, salah satunya kelas bermain peran. Dan kalau Kak Nirbita berkenan, aku pingin ngajak kakak buat ketemu adek-adek itu. Harapannya, semoga kakak tertarik untuk bisa berkontribusi mengajarkan bermain peran kepada adek-adek. Kan keahlian kakak di bidang teater sudah sangat tidak diragukan. Gimana kak?” Terang Aruni panjang lebar.

Sembari memikirkan tawaran tersebut, aku mengamati Aruni yang masih menyunggingkan senyum tanpa lelah itu. Dari penampilannya, boleh juga sih dibilang akhwat aktifis dakwah kampus. Kalau memang benar dia salah satu dari mereka, mungkin ini peluang untuk memberikan penawaran mutualisme dengannya. Senyum brilianku tersungging lebar.

“Gimana kak Bi? Bisa kan bantu?” ujarnya membuyarkan.

“Boleh sih, tapi…” Kemudian dengan bersemangat aku memberikan tawaran mutualisme tersebut kepada Aruni. Aku akan membantunya mengajar kelas teater di Rumah Jalanan, namun ia harus membantuku untuk menghidupkan karakter yang akan aku perankan pada pementasan besar besok.

“Gapapa banget kak! Kebetulan aku juga aktif di lembaga dakwah kampus, kakak bisa ikutan kita kumpul-kumpul. Boleh juga ikutan aku datang kajian, dan ngisi mentoring adek-adek tingkat tiap pekan. Seru deh kak pasti” Seru Aruni Bersemangat.

“Hehehe, ya pokoknya aku tetep pengen peranku sempurna di pementasan nanti. Jadi aku harus belajar menjiwai peran dan paham seluk beluk aktifitas kalian.” Ujarku memamerkan cengiran kuda, sembari membayangkan bagaimana hari-hariku kedepan, demi mencapai sebuah kesempurnaan peran.

***

Setelah pertemuanku dengan Aruni, kami semakin sering terlihat bersama, tidak lama untuk kami bisa akrab. Bukan hanya menyenangkan, tapi Aruni sudah seperti adikku sendiri. Kesan bahwa dia seorang anak masjid-an yang eksklusif sama sekali tidak terlihat, bahkan dia mudah sekali akrab dengan kawan-kawan BSO Teater-ku yang banyak tingkah itu.

Dia pun dengan senang hati mengajakku ikut kajian-kajian rutin di kampus, dan mengenalkanku dengan kawan-kawan yang serupa dia kalau bertemu di musola atau kegiatan lembaga dakwah fakultasku. Mereka yang semula kurasa eksklusif, ternyata tidak seburuk itu. Seringkali aku sungkan untuk melemparkan umpatan atau kata-kata kasar, ketika bersama Aruni. Bagaimanapun aku berinteraksi dengannya hanya sebatas kebutuhan kerja, namun dia sangat membelajarkanku banyak hal.

Seperti pada suatu obrolan kami di kantin

“Kak Bi sejak kapan berhijab?”

“Hahaha. Kamu jangan nanya gitu dong, nanti kecewa denger jawabanku.”

“Emang Kenapa” Tanyanya penasaran

“Dulu, aku berhijab biar ngga ketinggalan jaman. Kan lagi trend tuh, public figure yang berhijab cantik gitu. Pengen aja kayak mereka, kekinian.” Ucapku asal.

Aruni tertawa. Dia tidak sedikitpun memandangku skeptic. Justru dia dengan berbinar menimpali

“Iya sih kak. Banyak banget public figure yang dulu bahkan seorang model, kemudian tersadarkan untuk berhijab. Menutup aurat, dan cerita mereka sangat inspiring ya. Kayak Shiren Sungkar atau Dewi Sandra, yang sekarang sering membagi inspirasi tentang semangatnya belajar islam setelah menutup aurat. Pasti Kak Nirbita akan menjadi seperti itu, suatu saat. Dengan segudang potensi yang kakak punya, sangat menginspirasi”

Aku pun takjub mendengar jawabannya. Tidak sama sekali menyalahkan, justru Aruni mengajakku kembali berpikir. Jangan-jangan selama aku berhijab, ada banyak orang yang memandangku, sementara tingkah lakuku sangat tidak mencerminkan bagaimana seharusnya muslimah yang berhijab bisa menginspirasi. Apalagi, untuk tataran fakultas, bisa dibilang namaku sebegitu cukup cemerlang. Ya. Anak ini membuatku berpikir.

Pada kesempatan yang lain aku pernah iseng bertanya padanya
“Run, meskipun aku mengakui cara berpakaianmu itu modis, tapi aku masih heran sama baju dan kerudung yang serba lebarmu itu. Ngga panas apa?”

Kupikir aku akan disuapi dalil, seperti kalau biasanya ikut kajian-kajian. Ternyata dengan santai dia menimpali

“Ya pinter-pinter milih kain atuh kak. Kalo bahan baju-nya panas mah mau sependek apapun juga tetep panas. Bajuku adem-adem semua. Haha. Kak Bi mau Coba?” Timpalnya menantang.

“Ah ngga deh kapan-kapan. Beloman pantes.” Ujarku.

Sejak obrolan tentang menutup aurat itu, aku jadi suka iseng mencari tau bagaimana seharusnya perempuan itu menutup auratnya. Tidak membentuk lekuk tubuh, tidak menampakkan rambut, tidak berlebihan dalam merias diri, hijab yang menutup dada, dan lain sebagainya. Dan entah getaran darimana, aku mulai merasa risih ketika harus mondar mandir di kampus dengan kerudung sekenanya dan kaos rapet badan seperti biasanya. Jadilah akhir-akhir ini aku lebih senang menggunakan kemeja sebagai luaran. Tidak banyak kemajuan, setidaknya interaksiku dengan orang-orang baru di lingkaranku membuatku untuk menyelami diriku dan bertekad menjadi lebih baik lagi.

***

“Woi Berhasil nih didikan gue!” Bayu berseru puas, sembari menoyor kepalaku.

Tak Terasa sudah Gladi Kotor saja menjelang pementasan. Itu artinya, tidak sia-sia pula usahaku untuk mengenal dunia baru lewat peran yang sialnya diberikan kawan sekaligus bos produksiku itu. Sembari menghabiskan waktu rehat menuju Gladi Resik malam ini, aku dan bayu pergi ke HIK seberang arena pementasan untuk menyeruput jahe hangat.

“Anyway, thanks ya Bay. Mungkin kalo ngga gara-gara lu ngasih mandate buat gue memerankan ini, gue ga akan kenal dengan dunia yang akhir-akhir ini membuat gue harus banyak belajar lagi.” Ungkapku tulus, disambut wajah bayu yang total melongo.

“Eh beneran tau, gue belajar banyak dari si anak kecil Aruni itu. Mulai dari Rumah Jalanan dimana gue bisa memberi manfaat lewat ilmu main peran yang gue punya, sampe pembelajaran yang gue dapat dari obrolan obrolan kecil bareng Aruni tentang agama, hijab, dakwah dan lain sebagainya.”

“Wih salut gue sama elu Bi. Seperfeksionis itu ternyata temen gue, sampe rela menghabiskan waktunya mengenal dunia baru, demi peran yang sempurna di pementasan.” Puji Bayu yang gue yakin, sangat tulus.

“Kalo ngga gara-gara itu, mungkin Tuhan ngga ngasih gue kesempatan buat lebih kenal lagi sama Dia” ujarku sambir menerawang pekatnya langit malam.

“Yang terbaik aja deh sob. Yang penting, gue ngga mau ngeliat temen gue jadi teroris ya” Kemudian bayu mulai ngaco

“Sok tau aja sebenernya kalian itu. Mereka ngga se-radikal yang dibayangkan kok, beneran!” Sembari menoyor kepalanya, kemudia bercerita

“Ada satu momen dimana Aruni selalu mengajakku untuk melingkar tiap minggu, bertemu teman-teman dia. Dan, entah aku merasa sangat nyaman ada disana, bertukar cerita dan ilmu, saling mengingatkan dalam kebaikan, pokooknya beneran kayak keluarga deh” Tuturku sangat bersemangat.

“Hmm… seru banget Bi kayaknya cerita kamu untuk bener-bener bisa menjiwai peran itu. Semoga sukses deh pentas kita malam ini”

“Ah ngga asik lu diajak cerita, ngga nyambung!” mendengar teriakan coordinator lapangan, kami pun menyudahi obrolan malam itu. Aku pun beranjak menuju arena pentas lagi.

“Hahaha ngambekan ah Bi!” Seru Bayu menggoda, sembari menjejeri langkahku menuju tempat pentas berlangsung.
Malam semakin beranjak, hingga arena pentas sudah dipadati oleh pengunjung yang tak sabar menilai performa kami. Pementasan pun berjalan sesuai alurnya, dan mendapat tepuk tangan puas penonton sebagai tanda berakhirnya acara. Kami bersorak puas dengan tiga bulan usaha kami mempersiapkan pementasan besar ini.

***

Dari ujung kursi penonton, kulihat sosok Aruni melambai

“Kak Nirbita!”

Aku pun meninggalkan kerumunan kebahagiaan kawan-kawanku dan beranjak menemui Aruni

“Bagus banget kak pementasannya. Selamat ya! Ngga sia-sia, acting Kak Bi juga maksimal kerennya” Dengan tulus hati adik tingkatku itu mengapresiasi.

Kemudian, ia pun menyodorkan bingkisan kepadaku.

“Apaan nih?”

“Ucapan terimakasih aku dong, udah mau bantuin di Rumah Jalanan. Dan, tiga bulan kenal kakak aku dapat banyak banget pelajaran.” Matanya terlihat berbinar.

Kutengok isi bingkisan itu, sebuah gamis cantik berwarna Baby Blue dan kerudung-nya yang juga senada.

Rupanya, ada yang perlahan menetes haru. Kupeluk Aruni, dan kuucapkan terimakasih padanya. Sesungguhnya, aku yang mendapatkan banyak sekali pelajaran darinya.

“Kakak pasti cantik deh kalo pake gamis dan hijab ini!” Aruni berseru girang.

“Bantu aku Belajar ya Run!” Bisikku masih penuh haru.

***

Satu tahun sejak pementasan yang menjadi titik tolakku mengenal lingkaran baruku. Bukan dengan kemeja lagi aku menutupi rasa risihku, menghindari lekukan-lekukan tubuh yang terlihat kala berpakaian. Kini aku lebih suka menutupinya dengan sepasang gamis dan hijab yang tetap kekinian, kalau kataku dahulu.

Tidak sama sekali ada yang berubah dari aku yang dulu. Kedekatanku dengan kawan-kawan BSO Teater pun tidak sama sekali berkurang, meski kini rutinitasku sedikit terbagi dengan kegiatan-kegiatan menghijaukan musola kecil fakultasku. Justru, dengan begitu aku jadi senang mengajak anak-anak sekre teater untuk solat berjamaah di musola.

Namun, memang ada beberapa hal yang saat ini semakin diindahkan semenjak aku mengenal Tuhan dan agamaku lebih mesra.

“Islam tidak akan mengubah karakter seseorang, ia hanya akan menuntun akhlaknya agar lebih baik, benar dan indah. Biarkan biji jeruk tumbuh menjadi jeruk, bukan memaksa untuk menjadikannya apel. Ia tidak akan bisa” Begitu omongan bijak anak kecil Aruni yang sangat membekas. Karna Nirbita tetaplah Nirbita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 3 + 8