Effendi

Panas menyengat ubun-ubun kepala, membuat dahaga terasa menyiksa, dan ini adalah hari puasa ramadhan. Sesekali awan melintas diatas menutup terik matahari, cukup lama tapi terasa singkat bagiku, setelah itu terik matahari kembali menyeruak membakar kulit memeras keringat. Meskipun begitu tidak layak ketika menjalankan puasa ini diiringi dengan keluh kesah, terlebih karena ini adalah syariat-Nya. Tak apa, siang ini bisa kugunakan untuk mengerjakan tugas di kampus.

“Tugas kita ada apa aja sih ?” Tak sanggup ku mengingat lagi saking banyaknya tugas

“Hadehhhhh.. siapkan pulpen dan buku, di catet sekalian!” Pinta Yasmin tak habis pikir

“Oke, siap Bu.”

“English for bussiness Tugas membuat Company profile berupa VIDEO, BOOKLET, PPT, trus Negosiasi dalam bahasa Inggris dibuat video, trus buat schedule of trip business.” Dektenya padaku

“Hahahaha. Tabahkanlah hamba Mu ini ya Allah.” Sahut ku sedikit terkejut.

“Cepet dikerjain Nadia!”

“Iya iya Yas, ini baru mau ngerjain.” Jawabku bersungut-sungut

“Hehehe, santai Nad, aku cuman bercanda kok, sini kita kerjain bareng, aku tadi bukan marah kok”

“Tuh kan, ngeselin kamu ni.” Sahutku
Meski Yasmin orangnya ngeselin tapi dia adalah tipe orang yang dapat dijadikan sahabat sejati, seperti lagunya Sheila On 7 Sahabat sejati.

“Ehh Yas, nanti ba’da Ashar ke boulevard yuk.”

“Mau ngapain ?”

“Ya ngabuburit gitu.” Rayuku padanya, karena dia sudah diajak pergi kemana-mana.

“Ngabuburit kok ke rektorat, ngabuburit ya ke masjid baca Qur’an.”

“Yahh, maksudnya habis sholat tuh kan tilawah habis itu jam 5 an kita ke boulevard, ngabuburit sambil cari takjil, sekarang kan setiap sore pas bulan ramadhan di boulevard rame mahasiswa pada jualan.” Jelasku semoga dia mau

“Yaudah nanti habis tilawah kita kesana, tapi tilawahnya yang bener lohh ya, jangan buru-buru, nanti kalau buru-buru malah salah semua tuh tajwid.”

“Oke siap Bunda.” Sahutku padanya, dia kupanggil bunda karena di seperti bunda ku saja, selalu disiplin dan terus mengingatkan ku pada hal-hal baik.

Selang beberapa menit kemudian adzan sholat ashar mulai terdengar, saling bersahutan dari sudut-sudut kota, memanggil hamba-Nya tuk kembali memanjangkan sujud berserah diri pada-Nya. Tak usah lama menunggu adzan selesai Yasmin sudah memasukkan semua barang-barangnya kedalam tas lalu menarik tanganku untuk segera bergegas ke masjid Nurul Huda yang merupakan masjid terbesar di Kampus ini. Menit-menit telah berlalu tuk melakukan ibadah sholat, tilawah ku lantunkan ayat demi ayat halaman demi akan, terasa nikmat jiwa mendengarnya, tenteram rohani merasakan indahnya firman ini.

“Udahkan Yas ?”

“Udah, bentar tak masukin Al-Quran dulu.”

“Oke.”

Setelah beberapa menit menunggu kami beranjak keluar menuju boulevard kampus, tak terasa ternyata kami cukup lama juga tilawahnya, tiba-tiba aja sudah jam setengah enam.

“Wahh udah rame aja Yas.” Kejutku sesampainya boulevard

“Iya nih, kita mau beli apa ?” Tanya Yasmin sembari turun dari motor menaruh helm.

“Hmmm. Kita beli es buah aja ya, tapi keliling dulu ya, biar nanti pas beli es buah pas adzan maghrib.”

“Cuman keliling boulevard ini kan ?” Tanyanya lugu

“Iyalah Yas, capeklah kalau keliling solo.” Heranku dengan pertanyaannya.
Mulai dari penjual paling belakang hingga yang ada didepan gerbang depan pun kami susuri, bahkan dua kali keliling boulevard. Tak lama dari sela-sela kesibukan ku keliling boulevard seseorang melintas didepan kami, awalnya tak kenal tapi setelah diamati dengan baik ternyata itu adalah orang yang sangat kami kenal dekat.

“Reni ?” Sapaku pada seseorang itu.

“Ehh iya, kamu sama Yasmin kok tumben ke boulevard ?” Senyumnya cerah seperti sekarang sore ini.

“Hehe.. cuman pengen aja.” Sahut ku agak malu.

“Tapi sejak kapan kamu pakai.” Tanya ku belum selesai dia sudah memotong.

“Ohh ini, baru baru aja kok aku pakai hijab ini, baru pas Ramadhan aja.” Sahutnya sambil memegang ujung hijabnya.

“Alhamdulillah, kalau pakai hijab kamu tambah cantik.” Tambah Yasmin memujinya.

“Hehe iya, aku duluan ya Nad, Yas,.” Pamitnya, sepertinya dia akan ada agenda setelah ini.

“Ehh iya, hati-hati ya Ren.” Sahut kami berdua.

Tak lama dari pamitannya, akhirnya sebuah seruan yang dinanti-nanti telah tiba, adzan Maghrib berkumandang, berdengung dari setiap sudut kota membawa rahmat dan nikmat berbuka puasa. Segera tanpa di suruh dua kali aku sudah menengguk segelas es buah yang tadi kubeli,memang benar barulah terasa apa yang di katakan pada surat Ar Rahman ” Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”. Sungguh setelah menahan segala nafsu seharian, telah lega pada ku semuanya setelah adzan maghrib tiba.

Hari demi hari perjuangan mengalahkan ego dan nafsu terus berjalan menyusuri relung kehidupan, menembus elok sang waktu, berlalu melewati momen demi momen, akhirnya tibalah saatnya hari terakhir berpuasa, lega rasanya tapi juga sedih karena harus menunggu untuk tahun depan agar dapat meraup pahala sebanyak-banyaknya pada kesempatan Ramadhan.

Takbir berkumandang berdengung dilangit menyuarakan kemenangan, seluruh dunia bukan hanya pada daerah tertentu, semua menyuarakan kemenangan ini, pada hakikat terlihat menang tapi tak tau apakah yang sebenarnya didapat, semua kembali lagi pada seberapa besar niat lurus kita dalam melewati puasa ramadhan ini.
Pagi yang cerah membawa berkah jari raya Idul Fitri, sholat pun dilakukan di masjid-masjid terdekat, bukan tapi di masjid-masjid terbesar, karena luapan jamaah tak kan bisa ditampung oleh musholah kecil, bahkan zaman Rasulullah melakukan sholat di tanah lapang.

“Yas, kok ketemu lagi sih ? Dikampus ketemu, keluar rumah ketemu, sholat pun ketemu lagi.” Candaan ku pada sahabat ku ini.

“Yaelahh Nad, kita kan tetangga.”

Tawa kecil buncah diantara kami berdua, terlebih karena ini adalah hari bahagia umat Islam. Menit-menit berlalu membuat sholat Ied ini selesai, kesenangan ku hari ini tiba-tiba tersumbat ketika aku dan Yasmin keluar dari masjid, dengan mata kepala sendiri aku melihat orang itu di gerbang masjid melepaskannya.

“Ehh Reni, kok hijabnya dilepas ?” Tanyaku dan Yasmin bersamaan.

“Ehh Kalian, ohh ini, aku belum siap aja kalau diluar bulan Ramadhan pakai hijab.” Sahutnya dengan santai sambil memasukkan mukena kedamaian tasnya.

“Astagfirullah Reni, lalu kapan kamu siapnya kalau ndak kamu latih setiap harinya ?” Tanyaku menahan rasa sedih ku.

“Yaa, aku belum sepenuhnya baik, jadi ndak berani untuk berhijab.”

“Ya Allah Ren, justru dengan berhijab kamu akan menjadi baik.”

“Ya itukan kamu, aku beda sama kamu.” Sahut Reni kali ini dia agak kesal

“Tidak Ren, kita itu sama, sama-sama makhluk Allah yang penuh dengan dosa.” Air mataku mulai mengalir perlahan.

“Udah deh, nggak usah ngurusin orang lain, urusin diri sendiri aja.” Sahutnya dengan nada agak tinggi.

Terdiam ku sejenak menahan perihnya rasa sakit di hati ini, tak kuasa ku melihat teman ku sendiri menipu Allah.

“Baiklah Ren kalau itu mau mu, tapi ingat Ren segala yang ada pada diri wanita itu fitnah Ren, dapat menimbulkan dosa Ren, untukmu sendiri atau bahkan untuk orang lain, coba deh nanti kamu buka-buka lagi kitab mu, disana bakal dijelasin kalau wanita diwajibkan untuk menutup aurat, terlebih tidakkah kau kasihan kepada ayahmu yang harus menanggung semua dosa-dosa yang dibuat anakny ketika keluar rumah hanya karena tidak menutup aurat.” Jelaslah panjang lebar sambil terisak-isak air mata tak kuasa lagi kutahan tuk tak mengalir jatuh.

“Udah deh, kamu nggak usah cerewet gitu ini kan hidupku bukan hidupmu, dan nggak usah ikut campur urusan orang.” Sahutnya kali ini dia naik pitam.
Yasmin disebelah ku hanya bisa terdiam melihatku meneteskan air mata menahan perihnya luka di dada, sedangkan Reni dia yang aku khawatirkan malah berbalik melawan arus syariat Allah.

Setelah kejadian itu Reni tak pernah mau bertemu dengan ku, jika berpapasan di jalan di selalu memalingkan muka, seolah-olah dia tidak sedang berpapasan pada siapapun. Seperti itu terus kabiasannya selama beberapa Minggu, hingga pada suatu hari ketika aku sedang membantu ibu menyapu rumah HP ku bergetar lama sekali, setelah selesai menyapu barulah aku membuka lock di HP, ternyata Reni melakukan panggilan 10 kali ke HP ku, awalnya aku biasa saja tapi setelah aku melihat isi chat nya aku terkejut dan segera meminta izin pada ibu untuk menuju rumah Reni yang sekitar 10 menit dari rumah ku.

“Kamu mau takziah ke rumah Reni ?” Tanya ibu saat aku berusaha berpamitan.

“Takziah ? Memang siapa yang meninggal Bu ?” Tanyaku pada ibu kebingungan

“Ayahnya Reni meninggal tadi setelah sholat subuh, akan dimakamkan nanti siang.”

“Innalillahiwainilaihirajiun, kenapa ibu nggak bilang sih dari tadi ?” Tanyaku pada ibu.

“Nah ini ibu baru mau kasih tau, tapi kamu udah tau duluan, nanti kesamaannya bareng ibu aja, ibu juga mau takziah”

10 menit kemudian aku meluncur naik motor bersama ibu, karena ayah sedang di luar kota jadi hanya aku dan ibu yang takziah, sepanjang jalan ku berdoa agar Reni baik-baik saja dan akhirnya tibalah di depan rumah Reni, banyak sekali orang disana, ketika ku turun dari motor tiba-tiba Reni berlari berlinang air mata memelukku, ternyata dia dari tadi menunggu ku di depan rumahnya, ya Allah tak kuasa ku menahan tangis.

“Nad, Ayah ku Nad.” Suaranya tercekat, tangisnya lebih dulu keluar.

“Iya aku tau Ren, tidak ada yang abadi di dunia ini Ren, semua pasti akan pergi.”

“Tapi Nad, aku belum melakukan apa-apa untuk membalas jasa Ayah.” Tangisnya menjadi-jadi.

“Ingat Ren, selama ayah kamu punya anak yang Sholehah, dia tidak akan kecewa pada anaknya.”

“Tapi Nad, bagaimana aku bisa, sedangkan hijab saja aku nggak pakai, bukankah sudah terlambat Na ?” Isak tangismengehentikan suaranya.

“Nggak Ren, nggak ada kata terlambat, InshaAllah kamu masih bisa untuk berhijrah, aku akan selalu membantumu untuk itu.” Ucapku sambil tersenyum menghiburnya.

“Kamu serius Nad ?” Dia mulai mengangkat kepalanya.

“InshaAllah.”

Tangisnya semakin menjadi-jadi, aku pikir dengan itu dia bisa jauh lebih tenang, tetapi malah tambah menangis.

“Makasih Nad, kamu memang temen yang baik Nad, susah nyari temen kayak kamu Nad, maafin aku yang dulu Nad, Yanng udah marah-marah ke kamu di depan masjid, maafin aku Masih.”

“Udah aku maafin dari dulu kok Ren, tenang aja, udah sekarang kamu hapus air matamu trus kita doa kan ayah kamu agar mendapatkan kenikmatan di akhirat.”

Hari ini terasa panjang bagi ku dan tentunya bagi Reni, seperti ada yang sengaja menuangkan tinta hitam ke putihnya awan, gelap, seolah-olah langit ikut bersedih. Namun, lepas kepergian ini datanglah hidayah pada salah seorang umat-Nya yaitu Nadia. Tak kusangka-sangka perubahan pada dirinya begitu drastis, sekarang bahkan tidak tanggung-tanggung dia mengenakan hijab yang begitu syar’i tidak memperdulikan model trend, dan sesekali dia mengenakan cadar, dia pernah bilang padaku bahwa lama kelamaan dia malu jika ada yang melihat wajahnya, terlebih dia takut kalau ada yang bermaksiat karenanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 3 + 8