Nur Wahyuni

Hari itu, senja semakin dekat. Langit biru perlahan berganti gradasi warna. Udara panas mulai meredup,dengan jingga yang tertatap kini. Burung.burung bergurau di angkasa,berjejer ria seakan bercerita seharian ini mereka telah berkelana kemana saja.

Senja mendekat dengan lebih dekat. Sedekat mata memandang semakin gelap. Menghapuskan terlihatnya sosok yang tengah duduk termenung,tenggelam dalam langit hitam. Ya,bayangan raganya semakin tenggelam.

Sosok itu adalah Attar, pemuda gagah yang berkelakuan kurang disegani. Siapapun yang melihat wajahnya, tentulah akan terkesan. Namun, ketika mengetahui perangainya, akan ada perkataan tak menyenangkan yang akan terlontar. Mungkin juga jika kau yang melihatnya.

Tapi, yang kali ini terlihat benar-benar tak seperti yang biasanya. Berbeda, tak seperti biasanya. Berubah, tak seperti biasanya. Bagaimana tidak? Ia yang kini duduk dengan tenang, memandang kemahabesaran Alloh dengan penuh khidmat. Raut mukanya tak seriang sebagaimana sehari-hari. Ia kini terlihat menjadi pemuda gagah nan teduh. Sungguh, ketampanannya kini terlihat sangat jelas, dengan mata yang tajam mencoba menelisik ada apa dibalik atap tanpa tiang itu. Sebelum duduk di balkon rumahnya, sesuatu rumit sebenarnya telah terjadi. Sebelum wajahnya menunjukkan kemurungan. Menunjukkan ketidakbiasaan pada kelakuannya itu.

Ibundanya. Ibundanya telah berpulang kepada Dia yang mencipta. Ibundanya telah menyelesaikan jatah rezekinya. Ibundanya telah kembali, pada tempat seharusnya kembali tepat dimalam ketika ramadhan menyongsong. Rupanya, hal itulah biang dari apa yang terjadi saat ini. Sejurus seusai pemakaman, ia bergegas mengasingkan diri dari keramaian. Menuju tempat favoritnya, dimana tak ada penghalang sedikitpun baginya untuk melihat betapa luas nikmat yang diturunkan. Sesekali ia menundukkan pandangannya, serta mengusap wajahnya dengan begitu lemas. Ia terlihat sangat berputus asa, yang hal itu tak pernah terlihat oleh siapapun sebelum kejadian ini.

“Kenapa !!!! Kenapa hal ini terjadi? Apa maksud semua ini? Kenapaaaaaaa !!!!!!!!”

Kegeraman tumpah dalam mulutnya, meski hanya ia sendiri yang dapat mendengarkan. Tak ada siapa di sekelilingnya. Attar, pemuda gagah itu terpuruk dalam kesendiriannya.
Tiada terasa, ada air mengalir dari matanya. Kepalanya tertunduk, dan air menetes satu per satu menjatuhi balkon. Begitu derasnya, hingga terbentuklah kubangan. Bukti betapa terpukulnya hati Attar dengan kepergian ibundanya terlihat sungguh jelas. Hatinya luluh, setelah sekian lama mengeras.
Hari tak lagi senja, semakin gelap dan hitam. Malam. Ya, begitulah orang-orang menyapa. Tiba-tiba, sesosok perempuan bertubuh besar menghampiri Attar dan menepuk pundaknya.

“Nak, ayo turun. Semua menunggumu di bawah. Semua mencarimu, ternyata kau disini”.

Dengan spontan, Attar memalingkan wajahnya ke belakang. ” Ib…….” Mulut Attar berhenti mengucap. ” Oohh, bibi. Aku sedang ingin sendiri, Bi. Boleh biarkan aku sendiri? “.

“Tidak pernah kudengar nada bicaranya seperti itu sebelumnya” gumam bibi Attar seraya meninggalkan balkon.

” Wahai, yang jiwaku berada dalam genggamanMu, apa yang sebenarnya sedang Kau rencanakan untukku? Bukankah Kau tahu, ayahku telah lama meninggal. Aku tinggal hanya bersama ibu. Tak bersaudara satupun. Aku tinggal hanya bersama ibu disini, Kau tahu hal itu kan? Lalu mengapa? Mengapa dengan tega kau renggut ibuku setelah kau renggut? Kau egois! Bagaimana aku sekarang? Bagaimana aku meneruskan hidupku? Bagaimana? Jawab aku! Jawablah! ” Suara Attar mulai melemah.

” Apa karena kelakuanku yang tak sepadan dengan ibuku? Karena aku selalu tak patuhi nasehatnya? Begitukah alasanMu mengambilnya? Begitukah, Wahai? “

Attar mencoba berdiri, sekuat tenaga ia berusaha. Selangkah demi selangkah ia meninggalkan balkon dengan jalan sempoyongan. Sesekali hampir saja tubuhnya ambruk. Untunglah, pegangan tangga membantunya untuk menyeimbangkan.

Sampai di bawah, saudara ibu serta saudara ayah Attar sudah berkumpul. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisinya saat ini, setelah berjam-jam menyendiri di balkon.

“Attar, kau baik-baik saja? Kau mau minum? Budhe buatkan teh manis untuk Attar ya?”

“Tidak usah budhe, terima kasih”
Attar hanya fokus pada jalan menuju kamarnya. Ia tidak perduli ada siapa saja disekeliling. Apalagi untuk tersenyum, bahkan melirikpun tidak Attar lakukan. Ternyata pilihan untuk meratapinya sendiri di balkon, tak jua memberi kesejukan dalam hatinya. Gemuruh itu masih terdengar pada benak Attar. Pemuda gagah berkelakuan tak disegani itu kini menjelma menjadi anak malang. Matanya sayup, pandangannya kosong, tatapannya tak sehangat dahulu.
Sampai di depan kamar, sesegera mungkin ia membuka pintu. Masuk, lalu menguncinya.

Sudah tak sanggup lagi Attar menyeimbangkan tubuhnya, runtuhlah ia pada pembaringan. Matanya segera terlelap, sebab sembab sisa tangis di balkon tadi.

Hari-demi hari terlewati, namun sikap Attar semakin tak bisa dimengerti. Ia selalu saja mengurung diri di kamarnya. Tak peduli dengan keramaian di sekitar rumahnya. Keramaian menyambut bulan suci penuh berkah. Bahkan ia tak menyadari hal itu. Ia pun hanya keluar demi keperluan tertentu, selebihnya ia akan kembali. Attar benar-benar menjadi seseorang yang berbeda. Sangat berbeda. Kamarnya berantakan, rambutnya acak-acakan, bahkan untuk mandi saja Attar menunggu sampai bau tubuhnya begitu menyengat. Attar…telah berubah. Menjadi pribadi yang diam. Siang hari, ia habiskan untuk tidur. Malampun demikian. Waktunya hanya sebatas itu semenjak kepergian ibundanya. Ibundanya yang dahulu sering kali ia maki-maki, bentak-bentak, suruh-suruh, dan hal serupa. Belum sempat ia merubah sikap, takdir telah berkata lain. Kepergian ibundanya laksana cambuk berlipat-lipat.
Suatu siang, dalam langit cerah ketika Attar sedang terlelap, tiba-tiba seorang wanita separuh baya mendekatinya. Dekat sampai Attar tak mampu untuk pergi.

“Nak, kamu kenapa? Apakah kamu sakit? Kamu sudah makan? Mengapa rambutmu berantakan seperti ini? Kamarmu. Mengapa kamarmu jadi seperti ini? Apa kamu habis menyelesaikan tugasmu, dan kamu merasa kesulitan? Nak, mengapa kamu menjadi seperti ini?”

Belum sampai Attar mengucap sepatah kata, ibu itu kembali angkat bicara.
“Kamu kenapa, sayang? Ibu tidak suka melihatmu seperti ini. Ibu sedih melihatmu bersikap semacam ini. Kamu bukan anak yang ibu kenal dulu. Yang sangat riang hari-harinya. Bahkan saking riangnya, terkadang kamu merasa terusik jika ibu berkata-kata. Meskipun itu hanya satu kata saja. Oh putra kesayangan ibu, lihatlah langit diwaktu malam. Ia semakin gelap dengan tingkahmu yang kini. Bukankah Attar dulu suka sekali dengan langit malam? Benar begitu, kan? Oh putra kesayangan ibu, cobalah tengok embun dipagi hari. Saat dulu Attar senang sekali berjalan diatasnya. Berpijak, menyentuh sejuk dalam waktu yang awal. Attar kini melupakan semua itu, seperti itu? Attar, sayang. Ibu sayang sekali pada Attar. Meskipun Attar tak pernah absen dalam hari-hari Attar untuk menyalahkan ibu. Entah tentang apapun itu. Ibu tetap sayang Attar. Tapi…dengan Attar berkelakuan seperti ini, ibu ingin bertanya. Haruskah ibu tetap menyayangi Attar? Sedangkan Attar sedikitpun tidak sayang pada diri Attar.”
Bulir demi bulir mengalir menyentuh pipi Attar yang lembut.

“Ibu tidak tau mengapa Attar menjadi seperti ini. Mungkinkah karena kepergian ibu? Ataukah sebab tak ada lagi tempat bagi Attar menumpahkan segala amarah? Ibu sayang Attar. Tapi bukan dengan Attar yang seperti ini. Ibu sayang Attar. Tapi bukan dengan Attar yang seperti ini!

Suara itu semakin jelas terdengar. Bahkan terasa seperti tepat pada lorong telinga Attar. Bulir-bulir yang mengairi wajahnya pun menderas bak air bah.
“Attar, sayangku. Berdirilah sebagaimana dulu Attar berdiri. Tegak, gagah, berwibawa, hingga setiap yang memandang terpukau. Berdirilah sebagaimana dulu Attar berdiri. Menatap ke depan dengan mata yang tajam tapi tetap hangat. Berdirilah sebagaimana dulu Attar berdiri!”

“Namun, tetaplah ingat sayang. Setegak apapun Attar berdiri, ada saat dimana Attar harus menunduk. Menunduk pada tempat yang rendah. Tempat rendah yang justru akan mengantar Attar pada tingkat yang tinggi. Attar tahu tentang apa itu? Ya, sujudlah yang ibu maksud. Apakah Attar mengingat kapan terakhir kali Attar melakukannya? Attar masih ingat, mengenai sehelai kain yang dulu Attar pinta pada ibu? Kain berwarna kuning keemasan yang mungkin saat ini sudah berdebu.”

“Attar sayang…kebahagiaan ibu kini hanya satu. Yaitu Attar. Anak ibu seorang. Jika Attar menyayangi ibu, bangkitlah sayang. Carilah kain yang dulu Attar memintanya.”

“Ibu…”

Tiba-tiba Attar menjerit dengan keras. Suara yang terdengar olehnya membuat ia terbangun. Malam itu, purnama terbentuk dengan sempurna. Cahayanya menembus jendela kaca kamar Attar.
Keringat dingin menyelimuti tubuh Attar. Nafasnya tersengal-sengal. Perkataan ibu yang baru saja didengar ternyata hanya ada dalam mimpi. Tapi…menusuk sampai ke ulu hati.
Attar menutup wajahnya, air mata mengalir lebih deras. Sekarang menjadi sangat deras.

“Ibu…Attar merindukan ibu. Maafkan Attar selama ini, Bu. Attar telah banyak berbuat salah pada ibu. Attar tak sedikitpun menghargai ibu sebagai ibu Attar. Ibu…maafkan Attar. Maafkan anak ibu yang tak pernah lupa untuk membuat hati ibu tersakiti.”

Attar menghela nafas sambil merapikan rambutnya. Kemudian menyalakan lampu kamarnya dengan jalan yang lebih bertenaga.

Ketika itu, waktu menunjukkan pukul 02.30. Attar segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ya, pada waktu sepagi itu Attar bersedia membersihkan dirinya, setelah hampir 2 hari ia tak sedikitpun menyentuh air. Kekuatan suara dalam mimpi itu sungguh-sungguh membuat hati Attar bergerak kembali.

Dinginnya air menembus satu per satu pori-pori kulit Attar. Bahkan hingga pada hatinya yang sempat gersang. Purnama yang sedari tadi mengintip, kini menyuguhkan senyuman yang lebih hangat bagi gairah Attar yang mulai tersirami.

Segera, seusai membersihkan diri, Attar berlari ke almari miliknya. Mencari-cari dimanakah gerangan barang yang ibundanya sampaikan itu. Helai per helai ia ambil. Lalu kembali disisihkan.
Ternyata, kain itu ada ditumpukkan paling bawah loker paling atas. Seakan sengaja supaya tak terjamah oleh tangan dikeseharian.

“Hhh…akhirnya ketemu juga.” Attar menghela nafasnya lega.

Dengan seksama ia perhatikan jahitan demi jahitan pada kain itu. Belum cacat sedikitpun, meski beberapa bekas lipatan nampak sangat jelas.
Jalannya kali ini sedikit ragu, tapi tetap mantap. Ia ingin ikuti apa yang disampaikan ibundanya. Ia merasa inilah saatnya. Dalam keheningan malam. Merengek pada Dia yang Maha Segala.

Perlahan, Attar berdiri. Sambil terus mencoba mengingat-ingat gerakan demi gerakan yang pernah diajarkan oleh ibundanya. Hingga sampailah ia pada satu gerakan yang paling diingat, sujud. “Ya Alloh… Ya Alloh… Ya Alloh….” rintih Attar dengan air yang mulai membasahi sajadah. “Ampunilah aku ya Rabbi. Aku telah berbuat begitu banyak kealfaan. Aku telah menjadi anak yang tak patuh pada orang tua, apalagi ibu yang Engkau janjikan bahwa surgaku ada pada telapak kakinya. Aku tak sempat mencium surga itu, bahkan tangannya yang sudah menggendongku pun tak pernah aku muliakan. Alloh…ampunilah segala apa yang telah aku perbuat selama ini. Dalam malam yang tak bersuara, kumerintih semata mengharap kemurahanMu wahai Tuhan semesta alam.”

“Ibuku telah dengan sabar mendidikku, tapi langkahku tetap menjauh. Sungguh, ibuku telah sangat baik hati padaku, bahkan sekalipun tak kuhargai. Alloh…aku bersaksi bahwa ibuku adalah orang yang pantas berada disisiMu. Mendapat tempat terindah dalam alam yang berbeda. Alloh.. aku bersaksi dengan kesungguhan hatiku yang kini telah luluh sebab kepergiannya. Aku memohon kepadaMu, berikanlah kepadanya lampu penerangan yang melebihi cahaya mentariMu di dunia. Engkaulah yang mengabulkan doa Ya Alloh, maka kabulkanlah doaku yang sederhana ini.”

Attar duduk terakhir dengan hati yang lebih tenang, pengaduannya kepada Dia yang mencipta telah menghipnotis seluruh sendinya. Jika saja pada saat itu ada yang melihat wajah Attar, maka pesona yang redup kini kembali memancar. Lebih dari yang sebelumnya.
Attar…pemuda yang beberapa hari melesu, kini gagah kembali. Hari-harinya diisi dengan berbagai kesibukan yang positif. Tak pernah ia lupa untuk membahagiakan ayah dan ibundanya yang telah tiada. Lewat sajadah lawas yang kini kembali berjiwa. Seluas itulah kebahagiaan milik ibundanya yang selama berpuluh tahun Attar rampas.

-TAMAT-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 3 + 9