Nur Ngafiati

Bismillah

Pasukan Langit, bolehkan aku menanyakan satu hal?

Apakah kalian kehilangan satu ksatria?

Kemarin aku melihatnya. Bahkan bersamanya.

Ia menceritakan padaku tentang rahasia langit.

Tak khawatirkah kalian?

Apakah aku boleh meminta satu hal?

Hmmm..

Bisakah ia tetap tinggal? Agar aku dapat mengeja sabda langit.

Lalu, kembali pada jalan Nya.

(Surakarta, Ramadhan 1348H)

Pemeran utama kali ini bukan aku. Kamu, manusia luar biasa yang baru ku kenal beberapa waktu. Namun, ya memang harus kusudahi untuk menyusun aksara tentang mu. Bukan, ini bukan tentang baper. Seperti yang lagi viral di kalangan anak muda baru-baru ini. Perasaan ini tak seremeh bak cerita roman picisan.

Aku mafhum, kamu telah khatam romantisnya berkhalwat dengan mushaf. Dimana disana tertulis surat cinta paling romantis sepanjang masa. Cinta yang tak pernah lekang oleh apapun. Dan aku mulai tahu, kamu adalah manusia langit yang sedang diuji di bumi. Dan qodarullah, melalui tangan-tangan yang tak terlihat dan dengan radar Nya, aku dapat menemukan mu. Meski sebentar. Ya, memang tinggal menghitung hari. Apa aku siap? Kenapa tidak? Dahulu aku pernah tanpa mu kan? Dan aku baik-baik saja.

Ya, semua berawal pada hari itu. Dimana aku mendapatkan potongan pesan berisi namamu. Darma. Katamu adalah teman kerja ku. Tak kau sebutkan seberapa lama kau akan tinggal. Aku pun tak pernah berpikir kau akan menetap.
Pada hari itu Darma, kau tak pernah tahu kan bahwa aku telah bersiap berpartner dengan Fulan? Dan aku tak pernah menyangka, ternyata kamulah yang terbaik yang dipilihkan Allah. Untuk menjadi qiyadah ku, serta mereka. Sekelompok anak berbagai karakter yang menemani perjalanan dakwah kita.

Hari kemudian berganti, hitungan pekan terlewati. Kamu mulai ku ketahui. Tidak mudah sebenarnya, untuk menyesuaikan diri. Berinteraksi dengan beberapa batasan yang mulai ku pelajari. Tak tahu kan kau, Darma? Aku masih merangkak mengeja untuk menjadi akhwat. Bahkan susunan huruf itu baru saja aku dengar beberapa waktu sebelum aku lulus dari seragam putih abu-abu. Tertawalah Ma! Lucu kan bagimu?

Sedangkan kau? Bahkan baru kali ini bekerja sama dengan yang namanya kau hawa. Kau tak paham cara berlaku menghadapi kami. Apakah kau pernah berfikir bagaimana cara ku menghadapi mu? Aku tak paham tentang hijab hati mu. Ghaddul bashar yang telah kau rapalkan teorinya bisa dengan tunai kau praktikkan.

Sedangkan aku? Aku baru tahu kata itu, belum lama. Lagi-lagi. Aku faqirah. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya dengan baik.

Namun, dari mu Ma, dari beberapa waktu ini, aku belajar banyak hal. Terutama untuk mencintai Rabb mu, dan Firman Nya yang dengan fasih kau tasmi’kan pada rakaat demi rakaat malam ketiga tarawih. Getar suaramu, menggaung di puncak hati paling dalam. Jangan tanya dimana, aku pun tak tahu tepatnya.

Dengan mu, dengan segala pengertian mu terhadap childishku, aku ingin belajar lebih banyak lagi. Aku ingin meninggalkan hal-hal yang tak perlu. Tapi, sebenarnya bukan karena mu, apalagi untuk mu. Katamu, semata-mata hanya untuk Rabb, maka aku akan mendapatkannya. Aku percaya katamu, Ma.

“Kalau lagi gelisah, coba buka mushaf. Halaman berapapun, baca yang kamu temukan! Insya Allah, kamu akan mendapat jawaban.” Katamu suatu hari. Kau tak tahu juga kan? Hal ini menjadi obat penenang ampuh. Bahkan mengalahkan ectacy atau apalah itu.
Darimu aku belajar ceria menghadapi dunia. Kadang aku ingin bertanya, tak pernah kah ada masalah dalam hidup mu? Bagaimana bisa binar mu selalu memancar dari balik kaca tebal itu?
Maaf, aku belum bisa menjaga pandangan ku, terkadang.

Jalan yang ku temui ini sangat berliku. Aku tersesat pada lubang-lubang yang memaksaku merangkak untuk melewatinya. Namun, bagaimana bisa aku setenang ini? Katamu, karena ketaatan akan membawa ketenangan luar biasa meski penuh luka. Aku belajar mencernanya. Kata-kata mu memang tidak mudah untuk ku terjemahkan dalam bahasa manusia.

Di jalan yang tak akan ada habisnya ini, yang sering mereka sebut dengan jalan dakwah, aku menikmatinya. Bahkan tidak ada lelahnya. Ah, bohong sekali ini. Hmm, lelah memang pasti. Namun aku tak perlu berhenti, atau bahkan berbalik arah. Tak peduli seberapa besar goncangan yang menyapa lewat hal apa saja. Aku yakin, kita bisa melewatinya bersama.

Namun bagaimana rasanya? Ketika kekuatan itu dihempas begitu saja, hanya dengan satu kalimat yang tak pernah ku andaikan sebelumnya. Kau bermaksud meninggalkan aku. Setidaknya itulah yang aku fikirkan pertama kali. Kau tak akan tahu, Ma. Bagaimana aku kala itu. Haha, bisa ku tertawakan luka ini pada suatu saat nanti.

Cengeng. Iya memang aku manja. Aku tak terbiasa dengan perubahan. Dan Rabb mu bermaksud menempa agar aku semakin kuat? Dengan jalan keridhaan ku untuk melepasmu?

Andai aku punya jawaban untuk meminta mu tetap tinggal. Pada kenyataannya, aku memang tak bisa berucap apa-apa. Sedetik setelah kau mengucap kata itu. Hingga kini, masih Ma, masih teringang pada relung batin ku.

“Al Qur’an udah manggil-manggil aku.” Katamu.

Ku tumpahkan segala perasaan ku di tempat paling nyaman untuk ku menceritakan hari ku bersama mu. Pertama, sajadah di sepertiga malam ku, di ponsel yang mejadi media untuk ku menerima suara mama ku, dan pada pundaknya. Sahabatku, namanya Fati.

Kau tak lupa kan? Aku pernah memperkenalkan mu padanya. Agar ia dapat menerjemahkan dengan jelas tiap paragraf yang ku ceritakan.
Ia memerintahkan ku untuk menyadari, bahwa konsep kehilangan itu tak ada. Lalu aku ingat, bahwa segala sesuatu adalah milik Yang Maha. Aku tak pernah memilikinya. Bahkan aku memang tak pernah memiliki mu, bukan?

Fati juga mengatakan bahwa Allah tak akan menghilangkan sesuatu tanpa mengganti yang lebih baik lagi. Itu yang membuatku lebih siap lagi untuk membiarkan mu menuju jalan selanjutnya. Setidaknya, banyak kata yang tak terungkapkan kepdamu, dapat sampai pada indera pendengar Fati. Aku sangat bersyukur dapat bersamanya.
Dan, aku tak berharap banyak surat ini akan sampai pada mu, Darma. Bagiku sudah lebih dari cukup, dengan Fati membacanya. Lalu ia akan menasehatiku dengan seribu satu caranya. Bukan sekedar rangkaian aksara. Seperti yang selalu ku goreskan.
Kembalilah, pada pasukan mu. Aku yakin, jika memang Allah menghendaki kau kembali, maka kau akan kembali dengan cara yang menakjubkan. Tapi yang terpenting saat ini adalah aku membiarkan mu menjadi merpati terbaik. Yang tahu kemana harus pulang.

Jangan khawatirkan aku dengan mereka. Meski kami sangat menyayangimu, kami tak akan setega itu untuk memaksa mu tetap tinggal. Padahal sebenarnya kami akan melakukan hal apapun untuk mewujudkannya. Tapi kami tahu, yang harus terjadi itu bukan keinginan kami. Tapi adalah yang terbaik menurut Allah.
Tidak mudah? Ya, memang seperti itu. Tapi, doakanlah saja. Karena doa akan sampai seberapa jauh jarak yang ada.
Teruntukmu Darma, best partner that I ever had. Terimakasih atas segala yang telah kau berikan, yang kau ajarkan. Semoga Allah membalas semua kebaikan mu. Maafkan segala kesalahan ku dengan segala kekurangan ku. Insya Allah aku ridha dengan kepergian mu, sama seperti ketika aku ridha dengan kedatangan mu.

Surakarta, 7 Ramadhan 1348 H
Salam Hangat

Olaf

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 4 + 2