Afifah Nada P. R.

Sastra Indonesia/2015

Ialah tangkai-tangkai haru yang lepas dari rantingnya. Tersapu angin dan gesekan kaki-kaki beralas. Dunianya bukan lagi pada sebuah rumah bernama pohon. Tetapi sudah lebih luas, lebih bebas. Tangkai itu memapah dirinya ke tepian, menyingkir dan berbenah. Beberapa tangkai yang memang sudah waktunya gugur memandangi ia dengan biasa. Tetapi tangkai yang seusianya memandanginya dengan penuh tanya.

“Kamu menggugurkan diri sebelum waktunya,” ujar tangkai muda. “Apa alasan terbesarmu untuk itu?” tambahnya.

“Aku ingin tahu dunia yang lebih luas. Maha dari segala maha kehidupan,” tuturnya.

Kedua tangkai muda yang telah jauh dari rumahnya itu berbincang banyak tentang hidup dan kehidupan. Keduanya sama, mereka dalam marga tangkai-tangkai haru. Hidupnya semakin haru semenjak tuduhan-tuduhan itu menyamar menjadi pengusiran.

“Kamu masih dalam pengawasan ketat kami jika keputusan ini yang kau ambil. Dunia maha yang kau gaungkan itu lebih mengerikan dari yang kau pikirkan,” ucap keluarganya dulu.

Ia mengingat-ingat kembali keputusan apa yang membuatnya pergi. Hal berat apa yang membuat ia menggugurkan diri. Ia mengisak di depan kawan barunya itu. Lekas-lekas air itu jatuh ke tanah tempat dirinya sekarang berdiri. Beberapa waktu berlalu, dengan napas masih tersengal-sengal.

“Kau adalah tangkai yang berbeda. Lepasmu dari indukmu dibersamai dengan selembar daun yang masih melekat sangat dekat. Mungkin aku tak sepertimu, kuat mengangkat daun sebesar itu dalam kelanaku,” ucap tangkai muda.

“Indukkulah yang tidak berkenan dengan ini. Daun ini terlalu besar katanya. Ketika aku dilepas ke dunia yang luas, indukku tidak setuju dengan daun yang besar ini menutupi tubuhku,” tandasnya kemudian.

Tangkai muda itu memahami kawannya yang sedang kacau itu. Suara hati riuh bergemuruh tapi mulut diam senyap. Tangkai muda itu tak berani berkata-kata. Ini perihal alam batin diri pribadi yang tak seorang pun bisa mengerti. Maka diambillah jalan, yakni diam.

“Apa salah jika aku pergi dengan daun besar yang menutupi badanku ini?” ia memulai percakapan.

“Tidak. Tapi kupikir kau terlalu kecil untuk membawa daun yang besar itu. Indukmu mungkin takut kau kenapa-kenapa nantinya,” jelas tangkai muda.

Ia masih berpikir dengan terusirnya dirinya dari induknya. Bukan terusir sebenarnya, tapi lebih tepatnya mengasingkan diri. Bahwa semuanya akan baik-baik saja jika keputusan yang dia ambil adalah tetap di rumah dengan induknya dan menuruti perintah alam untuk menopang daun yang menjalankan tugasnya.

Tidak lama, angin kencang berembus melewati mereka yang sedang duduk berbincang, antara tangkai satu dengan yang lain. Semua panik dan berteriak-teriak walau tak ada yang mendengar. Mereka kerahkan pikiran dan tenaga saat kondisi seperti itu. Jungkir balik seakan sudah menjadi hal biasa di antara tangkai-tangkai gugur. Badannya yang kecil tetap saja kalah mesti sudah berkali-kali belajar dari pengalaman.

Tangkai-tangkai itu tetap mencoba sekuat tenaga mempertahankan diri agar tidak terseret angin kencang itu. Ada yang menempelkan seluruh badannya pada tembok-tembok besar manusia, ada pula yang bersembunyi di balik kaki yang beralas baja. Semuanya menyelamatkan diri. Alhasil, hanya beberapa tangkai yang selamat dari badai angin itu.

Kedua tangkai muda yang tadi sedang berbincang pun kalap dan terlempar. Badan mereka terpelanting jauh hingga mereka tidak tahu lagi di manakah mereka sekarang. Ia sedikit memar pada beberapa bagiannya dan yang sangat disayangkan adalah daun yang menempel di badannya sudah tak lagi utuh.

“Daunku? Tidak! Daunku sudah sobek. Bagaimana ini?” ia menangis.

Tangkai muda melihatinya tanpa kata. Matanya sudah berbicara banyak tanpa harus bicara.

“Apakah ini akibat aku tidak menurut dengan indukku?” tanyanya lagi.

Tangkai muda hanya diam. Melihatinya dengan tatapan menyedihkan. Lalu keduanya menangis. Saling merangkul dan menguatkan. Tidak ada yang bisa berkata-kata lagi. Tidak ada yang mampu berucap apapun. Kedua tangkai itu basah. Setelah angin kencang berlalu, di langit atas sana terbitlah awan hitam yang akan segera memandikan alam raya dan seisinya.

“Kala hujan tiba, dulu aku pasti menjadi yang paling awal menyerbu kedatangannya. Bersama daun-daun dalam pengawasan ranting, batang, serta akar,” ingatnya.

“Kamu rindu ya pasti dengan itu?” tanya tangkai muda.

Tok, tok, tok!

Suara ketuk pintu dan salam terdengar dari balik pintu kamarku.

“Mbak, hari ini ngampus jam berapa? Anter Ibu sebentar ke apotek bisa?” Ibu melolong dari balik pintu.

Aku yang semula masih sibuk dengan laptop menyelesaikan naskahku, segera memalingkan wajah ke ibu. Mengangguk, tanpa kata. Segera setelahnya ibu berbalik badan.

“Cepet ya, Mbak. Ibu tunggu di depan,” suara ibu semakin kabur.

Aku segera berbenah. Mengambil jaket, memakai rok panjang, dan kerudung. Setelahnya mengambil motor di garasi. Ibu sudah siap membonceng ketika motorku tepat di hadapannya.

“Sebentar, Bu. Ada yang ketinggalan.” Aku langsung berlari meninggalkan motor yang masih menyala.
“Apa, Mbak?” ibu sedikit berteriak.
Setelah masuk ke dalam rumah beberapa saat aku kemudian duduk di teras memakai kaos kaki.

“Sebentar, Bu. Pakai kaos kaki dulu,” ucapku.

Raut muka ibu kemudian berubah. Mendekatiku dan melihatiku dengan tatapan tajam. Aku sedikit canggung. Ingatan-ingatan lalu seolah kembali membombardir diriku. Hatiku semakin menciut. Paham bahwa ini akan menjadi puncak semuanya.

“Mau ke apotek ngapain pakai kaos kaki dan kerudung segede itu sih, Mbak?” pertanyaan ibu menohokku.

“Aurat, Bu.” Aku mendelik.

“Ini sudah menjadi perbincangan ibu dan bapakmu, ya. Semakin ke sini kamu semakin aneh. Pulang kampus selalu sore bahkan malem. Emangnya kuliahmu itu belajar apa saja? Hari libur juga tetep ngampus, katanya ada acara ini acara itu. Beli kerudung besar-besar kaya gitu-gitu. Sebenarnya kamu itu ngapain sih di kampus, Mbak?” ibu duduk di sampingku.

Aku mematung.

“Kamu ngaji di mana?” ibu mengusik
“Ngaji? Ya di masjid, Bu. Ikut sekolah Qur’an di kampus dan pengajian bareng Ibu, Ahad pagi.” Aku menjawab.

“Ibu nggak setuju ya dengan kelakuanmu yang seperti ini. Kamu itu sudah besar dan ibumu semakin tua. Kamu harusnya ngerti kalau selesai kuliah itu langsung pulang. Bantuin ibu di rumah. Anak perawan kok nggak pernah di rumah. Malah ikutan aliran-aliran apa itu!” ibu beramarah.

“Aliran apa maksud Ibu?” aku curiga.

“Ya aliran yang membuatmu seperti ini. Berpakaian itu yang biasa saja, yang penting aurat tertutup. Nggak usah pakai baju kaya gitu. Kaya kelompok jihad aja. Yang penting kita jadi orang baik, taat, sudahkan? Bukan jaminan juga orang yang ikut kelompok jihad, ngaji-ngaji kaya kamu itu akan masuk surga. Ibu cuma nyadarin kamu biar nggak kebablasan,” ibu semakin naik amarah.
Aku tertunduk diam. Air mata yang sedari tadi kutahan dalam pelipis akhirnya jatuh pula ke pipi. Aku tidak kuat dengan perkataan ibu.

“Semua orang akan tahu mana yang benar dan mana yang salah, Bu,” isakku.

“Nggak usah sok ngajarin Ibu!” suara ibu mengeras. “Mau minta masuk pondok bisnis pula. Alah itu cuma kedok. Bisnis-bisnis segala macam itu cuma akal-akalan kelompok tertentu biar kamu tertarik,” timpal ibu lagi.

“Kenapa jadi bahas pondok bisnis lagi, Bu? Kemarin aku minta izin tidak disetujui ya sudah aku tidak melanjutkan. Sudah selesaikan? Kenapa diungkit-ungkit lagi?” isakku.

Setelah sebulan lalu aku dikabari seorang kawan bahwa pendaftaran sekolah bisnis di pondok telah dibuka. Keinginan yang sejak setahun lalu hanya aku simpan, saat itu mulai berani aku utarakan pada ibu dan bapak. Setelah makan malam yang hangat, atmosfer dalam rumah berubah menjadi atmosfer ruang sidang. Sekuat apapun aku menjelaskan kepada mereka, kuat pula mereka membantah semua ajuanku. Aku kalah dan mundur.

Tidak lama dari kejadian malam itu, ibu selalu komplain ketika aku pulang lebih dari maghrib. Belum sampai aku melepas sepatu, bom pertanyaan telah meledak ke arahku. Alih-alih aku bisa menjawab dengan tenang, air mataku lebih dulu keluar membanjiri pipiku.
Tidak lama dari kejadian malam itu, ibu selalu berkomentar tentang jilbab yang kukenakan. Kian membesar, katanya.

“Mbog ya biasa saja,” katanya kala itu. Aku tersenyum kecut. Seluruh kata-kata keluar dan menyayat hatiku.

“Kalau kamu masih mau nurut ibu ya jadilah yang dulu,” ibu sedikit tenang.

“Yang dulu yang mana?” aku menyangsikan.
“Ya biasa aja, nggak usah pakai baju gitu-gituan,” timpal ibu.

Aku langsung pergi ke dalam kamar. Menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

“Allah, sungguh, semua sakit ada obatnya. Semua tanya ada jawabnya. Yang aku tanyakan, mengapa menuju Engkau begitu susah?”

Kemudian aku menyelesaikan naskah cerpenku yang akan kukirim ke sebuah media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 4 + 1