Cornelia Clara Tifany

Hubungan Internasional/2016

Seperti hari- hari yang telah kamu lewati, kamu selalu membuat pengharapan agar kamu menjadi seseorang yang lebih bermanfaat dibanding kamu sebelumnya. Seperti hari ini, kamu membuat sesuatu yang lebih bermakna dengan kemampuanmu. Kemampuan yang orang lain bahkan juga memliki tapi tak banyak dari mereka melakukan seperti yang kamu lakukan hari ini. Saat ini kamu terlihat sangat menyilaukan di antara wanita berhijab lainnya, entah karena warna bajumu entah karena warna hijabmu. Kamu selalu menjadi seseorang yang paling pertama dilihat oleh orang lain tapi hal itu tak berlaku untuk saat ini. Kamu memang menjadi pusat tapi pusat duniamu terletak pada lelaki yang berpakaian sangat rapi di pojok sana yang dikelikingi para adik asuhmu. Senyum lelaki itu yang merekah bak bunga yang mengembang di antara bunga- bunga layu yang lainnya dan senyum itulah yang membuat jantungmu berpacu lebih cepat. Saat jantungmu berpacu lebih cepat saat itu pula langkah lelaki itu mendekat ke arahmu berdiri dan senyum itupun semakin jelas terpahat.

Assalammu’alaikum, Arafah” sapaannya bak semilir angin sejuk saat musim panas menyerang. Kamu hanya menundukan kepalamu dan menjawab salam itu dengan sangat lirih sampai hanya kamu yang dapat mendengar. Tak khayal kamu membayangkan jika salam itu akan kamu dengar setiap pagi sebelum lelaki itu berangkat kerja dan juga saat pulang kerja dengan wajah lelah yang terpampang. Hingga akhirnya suara yang hangat terdengar.

“Arafah, are you fine?” kamu bingung harus menjawab apa ketika hatimu memang sedang tidak baik- baik saja dan itu karena lelaki yang wangi tubuhnya tercium sangat kuat oleh indramu. Kamu masih menundukkan kepalamu yang terlihat hanyalah lantai putih sebagai pijakanmu.

“Aku baik, Ilham” hanya itu yang dapat kamu ucapkan.

“Aku baru inget aku dapet undangan dari mawa untukmu, aku juga diundang. Mungkin kamu mau bareng aku?” kamu langsung mendongak ketika pertanyaan itu dilontarkan tapi hanya selang beberapa detik saja kamu langsung menundukan kembali kepalamu.

“Em… Aku berangkat sendiri saja, Ham. Aku tak mau merepotkanmu” lebih tepatnya kamu tak mau merepotkan hatimu ketika berlama- lama dengan lelaki itu.

“Kamu selalu saja menolak, Fah. Kita kan bisa naik motor sendiri- sendiri, kamu tak perlu khawatir” dan selalu saja kamu mendengar keluhan dari lelaki yang membuat hatimu berdesir itu.

“Bukan maksudku menolak tapi aku ada keperluan dulu sebelum ke mawa” kilahmu yang selalu sama.

“Ya aku paham kamu sibuk, Fah” dan senyum itu lagi, senyum yang membuat dunia di sekitarmu runtuh. Duniamu kembali ketika suara anak asuhmu memanggil nama Ilham.

Ya, Khoirul Ilham, lelaki yang membuat harimu semakin berwarna tetapi juga membuat harimu menjadi menakutkan.

-0-

Rapat telah dimulai dan lelaki itu duduk di sebelahmu, entah dia sengaja membuat konsentrasimu buyar ataupun tak ada niatan sama sekali. Kamu mencoba konsentrasi tapi tak sepenuhnya konsentrasimu pada agenda rapat ini melainkan ada sedikit celah konsentrasimu yang bermuara pada lelaki yang sedang memainkan bolpennya dengan mengetuknya di gagang kacamatanya. Ya, lelaki itu berkacamata dan itu membuatmu tambah tak dapat berkonsentrasi penuh pada agenda rapat ini. Terpesonakah kamu? Dengan lantang hatimu menjawab ya. Ditambah saat lelaki itu berdialog dengan petinggi kampus, saat itu pula kamu menyadari sesuatu yang menggelitik hatimu.

“Kamu kenapa nggak konsen deh tadi, Fah?” saat rapat selesai suara itu kembali terdengar.

“Aku agak kecapekan, Ham” capek karena kamu terlalu banyak memikirkan lelaki itu.

“Aku ada tempat makan yang enak, makan bareng yuk, Fah. Sudah lama kita gak makan bareng” kamu kebingungan harus merespon apa tapi tak berselang lama kamupun mengangguk.

-0-

“Enak gak, Fah?” kamu hanya menggangguk lagi dan lagi.

“Kamu sakit gigi ya, Fah?”

“Kok gitu?”

“Ngangguk melulu, aku kayak ngobrol sama boneka yang di mobil” kamupun hanya menyimpulkan senyum indahmu.

“Kalau mau ketawa gak usah ditahan, Fah”

Makan malam dadakan itupun diiringi dengan obrolan ringan hingga obrolan berat yang membahas kebijakan negara. Saat- saat berdialog inilah yang membuatmu sadar bahwa lelaki ini tak mempioritaskan pendamping hidup.

-0-

Derai air mata mengalir deras saat kamu bersujud di sepertiga malam ini dengan diiringi deru nafasmu yang semakin tak beraturan.

“Ya Allah, maafkan hambamu ini yang menduakanmu di dalam hati hamba. Maafkan Ya Allah. Tolong jaga dia Ya Allah, tolong bantu hamba menghilangkan dia dalam hati ini hingga hanya Kau yang hamba utamakan”

Di sepertiga malam ini kamu menyadari akan suatu hal kesalahan yang telah kamu perbuat selama ini. Menduakan Dia.
Katakutanmu inilah menjadi satu bentuk ketaqwaanmu pada-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 3 + 7