1. Fauzan Achmad A
    Ilmu Komunikasi/2015

Jika banyak orang yang mengatakan bahwa pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menghirup udara segar, maka udara pagi ini adalah udara terbaik yang pernah aku hirup. Pasalnya pagi ini merupakan hari bahagia yang akan dirasakan oleh sahabatku, Vina, dan kebahagiaan itu pun akan mengalir dalam darahku mulai pagi ini.

Bukan! Ini bukan tentang hari pernikahan Vina, karna Faza telah resmi menjadi suaminya satu tahun yang lalu, dan tidak mungkin Vina menduakan cinta Faza yang telah susah payah merebut restu dari orangtua Vina atas pernikahan mereka.

Aku, Vina, dan beberapa wanita cantik berbusana muslimah yang berada disampingku masih menyusuri pelataran masjid, tentu Vina yang berada paling depan, karna dia menjadi tokoh utama pagi ini. Puluhan burung gereja bermain-main didepan kami seakan menyapa selamat pagi, mungkin mereka sama sepertiku, tidak ingin melewatkan momentum bersejarah bagi sahabatku.

Hari ini, sahabatku Maria Vinantika akan resmi menjadi pemeluk agama islam, memeluk agama yang dirahmati Allah. Menjadi saudariku seutuhnya.
Ku tatap dari belakang punggungnya yang tegap, terlihat keyakinan penuh dan kesadaran utuh atas apa yang akan ia lakukan hari ini. Mengucapkan kalimat indah yang menjadi jembatan ia untuk bertemu dengan kehidupan yang baru. Tak pernah terbayang olehku akan merasakan kebahagiaan semacam ini, menyaksikan langsung hijrahnya sahabatku untuk kembali ke fitrahnya.
Melihat ini, teringat masa lalu ketika aku bertemu dengan kehidupan baru.

***

Siang ini, dosenku untuk ketiga kalinya tidak hadir mengisi mata kuliah jurnalistik. Akhirnya aku memilih untuk pergi ke kantin bersama Risya -teman dekatku- menemaninya sarapan pagi. Karna aku sudah sarapan dirumah, aku hanya membeli jus alpukat kesukaanku.
Kami berdua sedang duduk di salah satu sudut kantin. Dengan raut wajah yang sejak pagi kutekuk, aku melepaskan jepitan rambut dan membiarkan rambut panjangku terurai di belakang punggung.

“Dinda! Kenapa muka kamu ditekuk gitu? minum itu jusnya”

Aku hanya mengaduk-aduk minumanku.
“Sya, aku mau tanya deh, aku sering denger daerah rumah kamu banyak kasus kejahatan, emang bener? ”

“iya sih, kenapa emang?”

“serem yah, kamu gatakut Sya? Setiap aku kerumah kamu aja pasti ada preman yang godain aku”

Risya hanya tersenyum. Mungkin dia berfikir itu wajar, karna setiap aku kerumahnya aku hanya memakai pakaian ‘you can see’. Tapi saat itu aku cuek saja, toh aku merasa cantik berpakaian seperti itu.

Ku tatap Risya kala itu. Dia pun juga cantik. Tetap anggun walau dengan balutan jilbab lebar dan jubah panjangnya. Apa mungkin ia merasa aman hanya karna pakaiannya seperti itu? Ah, aku rasa tidak.

“kamu kenapa sih din? Ko tiba-tiba ngomongin itu?” tukasnya tiba-tiba.

“engga sya, aku cuma bete aja, di depan gang deket rumahku tuh selalu ada preman. Mereka suka godain aku, ya aku Cuma risih aja”

“mungkin Udah waktunya kamu berhijab kaya aku deh din, haha”, candanya.

Setiap kali aku membahas hal semacam ini, Risya memang selalu mengodaku untuk berhijab. Hampir semua hal yang aku keluhkan dapat ia atasi dengan nasihat-nasihatnya dan mengakhiri perbincangan dengan candaan ‘mungkin sudah waktunya berhijab din’.

“ah engga ah, gerah sya, yang ada stress nant i seharian ditutup gitu.”

Risya adalah teman dekatku sejak SMA, ia tahu betul apa yang aku suka dan yang aku tidak suka. Karna itu, dia pandai menyisipkan pesan-pesan yang menyejukkan saat aku sedang tidak bersemangat. Bahkan ia selalu berusaha membuatku sadar pentingnya berhijab, seperti saat ini.

***

Tak terasa satu tahun sudah semenjak aku lulus dari perguruan tinggi. Risya pun mendapat kabar gembira bahwa ia diterima di perguruan tinggi ternama yang ada di Jepang, dan hari ini adalah hari keberangkatan Risya menuju negara impiannya.

Setelah dua bulan lalu menikah dengan Zaki, ia sudah memutuskan untuk menetap di Jepang bersama suaminya yang memang juga melanjutkan studi di sana.

Pundakku mengguncang hebat saat aku sadar pelukan ini adalah pelukan perpisahan dari Risya sebelum meninggalkanku entah berapa lama.
Sebelum berangkat ia memberikan sepucuk surat, ia mengatakan bahwa aku hanya boleh membacanya ketika sudah kembali kerumah.

Dan lambaian tangan pun ku terima sesaat sebelum ia bener-benar menuju pesawatnya.

***

Aku sudah beada di kamarku sejak sore tadi, beberapa saat sebelum adzan magrib aku menyempatkan diri untuk mandi. Perjalanan dari bandara yang cukup jauh membuat badanku terasa lengket.

Setelah solat magrib, aku teringat dengan surat yang diberikan Risya ungtukku sewaktu di bandara. Aku penasaran, lalu aku putuskan untuk membacanya sekarang.

TERUNTUK SAHABATKU DINDA
Dear Dinda,
Halo Dinda sayang, saat kamu membaca surat ini, aku pastikan bahwa aku telah meninggalkan Indonesia, karna aku tahu kamu akan melakukannya jika aku memintamu untuk membacanya dirumah saja,haha

Dinda, delapan tahun sudah aku mengenalmu, kamu pasti tahu bahwa banyak ceritaku yang hanya kuceritakan kepadamu saja. Selain karna kamu yang sering main kerumahku, kamu adalah orang yang paling ku percaya setelah ayah dan bunda.

Kamu tahu? sedih rasanya saat aku menyadari bahwa aku akan meninggalkan orang-orang yang kusayangi untuk waktu yang cukup lama. Meninggalkan ayah bunda, meninggalkan adik-adikku, dan aku meninggalkanmu Dinda.

Namun aku sadar rencana Allah selalu menakjubkan, dan kali ini aku hanya mencoba untuk mengamalkan firman-Nya di dalam Al-quran.
“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung” ( Al jumu’ah : 10)

Dinda, selama aku mengenalmu, selama itu pula aku berharap. Berharap agar kamu sama sepertiku, mengenakan hijab. Bukan untuk menghindari preman di ujung gang rumahmu, lebih karena aku tahu kamu ingin menjaga kehormatanmu.

Maaf Dinda, aku terlalu sedih sampai tidak sadar surat ini lebih panjang dari yang aku kira, hehe. Terakhir, aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin aku minta untuk kamu ingat selalu.
‘ Ketika kamu menjaga pemberian Allah, maka Allah pulalah yang akan menjagamu’

Sampai bertemu di lain waktu dinda, aku mencintaimu karna Allah.
Dari sahabatmu,
Risya

Dan berlinanglah air mataku seusai membacanya. Terasa rindu yang amat dalam walau baru beberapa saat berpisah. Sampai bertemu di lain waktu sahabatku.

***

Akhir-akhir ini aku mencoba memberanikan diri untuk bergabung dengan teman-teman yang sering mengikuti kajian islam. Saat tugas kantor tidak menumpuk, akupun terkadang ikut dalam kajian- kajian itu. Walaupun rambutku masih terurai, namun saat kajian pakaianku lebih tertutup. Mengenakan jubah panjang serta selendang yang aku lilitkan di leher sudah cukup bagiku.

Namun Allah telah menggariskan takdir indah untukku.

Pagi itu, untuk kesekian kalinya aku bertemu dengan para anak muda berlagak preman di ujung gang dekat rumahku. Entah pekerjaan mereka apa, yang jelas aku merasa terganggu dengan adanya mereka. Terlebih saat aku harus melewati tempat mereka nongkrong.

“eh eh, liat itu Dinda, betisnya mulus banget gila ”, salah satu di anatara mereka berucap.

“ asli si, kalo doi bukan adiknya Bari udah gue sikat, haha ”, sahut yang lain.
Begitulah kurang lebih obrolan mereka yang membuatku selalu tidak nyaman, takut, dan berbagai macam pikiran yang membuatku Was-was.

Memang saat itu aku sedang memakai celana pendek karena kupikir hanya pergi ke minimarket, jaraknya dekat, jadi tak perlu mengenakan pakaian panjang. Beruntung aku memiliki kakak yang disegani di daerahku. Seorang pelatih karate yang dikenal kuat dan pernah melumpuhkan komplotan bersenjata yang ingin merampok tetangga kami. Sebagai adiknya aku jauh lebih merasa aman saat bersamanya.

Namun tetap saja, aku merasa direndahkan saat mereka berucap seperti itu. Aku benci. Aku muak dengan perkataan senonoh yang berkali-kali ku dengar tertuju padaku. Hey! aku bukan perempuan murahan yang senang jika bagian tubuhnya dinikmati oleh mata para lelaki hidung belang.

Saat aku sampai di rumah, aku langsung menuju kamarku. Ketika aku mengambil laptop di lemari buku berniat untuk menyicil pekerjaan kantorku, tak sengaja aku menemukan surat dari Risya beberapa bulan lalu sebelum ia pergi ke negeri matahari.

Kubaca ulang dan terhenti di pesan pada akhir surat yang ia berikan. ‘Ketika kamu menjaga pemberian Allah, maka Allah pulalah yang akan menjagamu’.
Seperti naluri dari dalam hati, aku pun berpikir, apakah aku dengan mengenakan hijab para lelaki itu tak akan menggodaku lagi? Apakah dengan mengenakan pakaian tertutup aku akan merasa aman? Ah, aku tak mengerti. Tapi ragaku seperti meng-iya-kan pikiranku.

Ku hampiri lemari bajuku, mengambil kain abu-abu yang terletak hampir paling bawah di tumpukan bajuku yang lainnya. Di hadapan cermin, kubalutkan kain tersebut menutupi sebagian kepalaku. Entah kenapa aku gugup. Tak berani memandang wajahku saat ini.
Pelan-pelan bola mataku mengintip ke depan, melihat diriku yang berbeda. Saat aku benar-benar memandang bayanganku, ada sedikit rasa aneh, namun tidak buruk. Aku cantik disana, setidaknya lebih cantik dari biasanya, itu menurutku, jika kamu melihatnya mungkin kamu akan setuju.

Ku coba tersenyum, lalu ku ucapkan basmallah sebagai pengusir rasa ragu-ragu dalam hatiku dan menyambut kehadiran diriku yang baru.
‘Bismillahirohmanirrohim’.

***

Seluruh keluargaku sempat kaget, aku yang dari dulu sangat susah diatur soal cara berpakaian, kini malah dengan kesadaran sendiri aku memutuskan untuk berhijab.

Sebulan sudah aku menjalani hidup dengan diriku yang baru. Banyak perubahan yang aku dapatkan sejak aku memutuskan berhijab. Aku merasa orang-orang seperti lebih menghormatiku, menghargaiku seolah aku adalah panutan. Entah mengapa akhir-akhir ini pekerjaan kantorku terasa lebih ringan, banyak rekan kantorku yang tak sungkan untuk membantu dalam menyelesaikan tugasku.

Yang terpenting adalah, aku tidak merasa gerah walau seharian aku mengenakan hijab. satu lagi ! para pemuda yang ada di dekat rumahku tidak lagi menggodaku atau sekedar bersiul menyapaku, mereka tampak segan untuk melakukannya.

Pernah suatu hari aku pulang kantor, seperti biasa aku harus melewati sudut gang tempat berkumpul anak muda tersebut. Mereka tidak menggodaku, justru mereka diam. Aku sempat heran kenapa mereka diam. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya, yang terpenting mereka tidak menggodaku lagi.
Sesampainya aku dirumah, bang Bari, kakakku, sudah menunggu di halaman rumah. Saat melihatku ia langsung berdiri, matanya seperti mengawasi sekitarku, aku bingung apa yang sedang ia lakukan.

“lagi ngapain sih ka?”

“ Kamu lagi ga di ikutin orang kan din?”, tanyanya.
“engga ah, kenapa sih?”

“Ayo masuk, ngomong di dalem aja.”, Ajak kakaku.

Aku mengikutinya dari belakang, entah apa yang ingin dibicarakannya.

“Tadi kakak ketemu Arya, katanya kamu sering diikutin sama orang. Dua orang, badannya besar, pakaiannya rapih. Mereka bilang si tampilannya bersih, rapih dan pas lewatin mereka dua orang itu selalu senyum. Tapi tetep aja kaka khawatir kamu diculik. “

“masa sih? Ga mungkin lah ka, lagian kan aku naik angkot, di angkot gaada orang-orang semacem itu.”

“kamu yakin din?”, tanyanya memastikan.

“Yakin kaa, kalaupun ada, Dinda pasti nyadar, Dinda pasti cerita .”

“ Yaudah yang penting kamu hati-hati, kalau ada apa apa langsung telfon kaka ya.”

“iyaa, udah ah Dinda mau mandi dulu, bentar lagi magrib.”

Aku pun berlalu meninggalkan kak Bari. Oh iya, Arya adalah salah satu pemuda yang sering nongkrong di ujung gang rumahku, Dia satu-satunya yang tidak pernah menggodaku, itu karena Arya adalah tetanggaku, ia sering membantu kak Bari mengontrol keadaan kampung supaya tetap aman.

Setelah solat magrib dan membaca Al qur’an beberapa halaman, aku sedikit rebahan di ranjang untuk sekedar menunggu adzan isya. Aku teringat perbincangan sore tadi dengan kakak. Apa mungkin aku diikuti orang? Pakaiannya rapih? Kalau mereka penjahat, kenapa mereka melempar senyum kepada preman-preman kampong?

Lagi-lagi aku teringat perkataan Risya, ‘Ketika kamu menjaga pemberian Allah, maka Allah pulalah yang akan menjagamu’.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, ketika Allah telah menghendaki sesuatu, maka terjadilah. Begitu kurang lebih materi yang pernah ku dapatkan saat mengukuti kajian. Jika dua orang yang mengikutiku adalah manusia, semoga Allah tetap menjagaku dari keburukan, namun jika mereka bukan manusia, segala puji bagi Allah atas kuasanya untuk menjagaku dan kehormatanku.

Adzan pun berkumandang, panggilan hati untuk mengucap syukur dalam sujudku atas segala hal yang telah Ia berikan. Dalam hati aku berdoa, semoga tidak hanya aku yang merasakan semua kenikmatan ini.
***

“Alhamdulillah…”
Ucapan syukur memenuhi seisi ruangan utama masjid. Dengan begitu resmi sudah Vina memeluk agama islam. Suasana haru pun amat terasa pagi ini. Burung-burung gereja yang tadi menyapa kami juga merayakannya di langit-langit masjid.

Aku sendiri yang membantu Vina mengenakan jilbab pertamanya. Aku benar-benar bahagia, menyaksikan langsung sahabatku bersyahadat, mengesakan kalimat Allah.

Air mata mengalir di pelipis matanya, terlihat Vina pun bahagia. Kini bidadari dunia telah bertambah satu.

Faza, suaminya yang memang seorang muslim menyambutnya dengan pelukan hangat. Kami semua tersenyum, menyaksikan romantisme dari pasangan yang sedang menggariskan jalan hidup barunya.

Kini aku memiliki saudara baru, menjadi pengingatku di kala aku lalai, menjadi lawanku untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 3 + 3