Nasy’ah Mujtahidah Madani

Ilmu Komunikasi/2016

Jangan bilang siapa-siapa. Motivasiku berhijab adalah karena aku tidak suka rambutku rengket terkena debu dan asap.

Karena dulu, aku hobi berjalan-jalan.
Sederhana saja. Aku adalah cewek tomboi yang hobi mengangkangkan kaki sejak kecil hingga SMP. Bahkan sekarangpun, di antara lautan manusia yang begitu beragam, aku masih suka membuka kakiku lebar-lebar tanpa peduli tanggapan mereka.

Tapi, lihat! Apa yang dikatakan mereka setelah melihatku dengan pakaian tertutup?

“Han, tobat lu?”

“Han, udah punya cowok lu?”

“Alhamdulillah, Hana insyaf. Jangan jadi cewek kasar lagi ya.”

“Cieeee, makin cantik aja.”

Sebetulnya, aku paling tidak bisa menjawab komentar yang satu itu. Belum pernah ada yang bilang kalau parasku ini cakep.

“Han, bener ini Hana?”

Yeee, kerupuk miskin! Iyalah, ini aku, si Hana yang hobi menggandrungi cowok-cowok dan membuli cewek-cewek!

Komentar itu berlangsung sekitar empat bulan lebih. Pun, yang berkomentar tidak hanya teman-teman, tetapi juga tetangga dan kerabatku. Aduh, aku mendapatkan pujian cantik di mana-mana, aku tidak tahu harus menjawab apa!

Salting. Tahu salting? Sangat tinggi. Oh, bukan; salah tingkah!

Tapi kurasa, setelah statusku sebagai wanita berhijab ini sudah menahun, aku mulai merasakan kebiasaan yang membuatku tidak mau melepas hijab.

Misalnya, ketika aku hanya sekadar mengambil jemuran yang sudah kering di depan rumah dan tidak memakai hijab, aku merasa leherku begitu terekspos dan merasa rambutku bisa saja mendadak dijatuhi tahi burung.

Kedua, ketika aku sedang di kos teman atau di kos sendiri, dan ada teman cowokku yang mau ikut bergabung, aku tetap akan memakai hijabku. Entah, rasanya sudah seperti pelengkap kepalaku saja.

Kalau-kalau aku sedang malas sekali pakai hijab, aku masih akan tetap memakai sesuatu yang menutupi kepalaku. Aku akan memakai jaket berkupluk sekaligus masker, karena dengan itu aku merasa terlindungi.
Kadang-kadang aku sedikit heran dengan teman-teman perempuan yang memakai hijab di sekolah, tetapi melepasnya ketika sudah berada di luar sekolah.

Like, hell! You wear hijab but you go clubbing? Oh, okay, I think you are clever enough not to bring our stuff of religion to an exposed public place.

Tapi, setidaknya, kalau memang kalian pakai hijab dan ingin melepasnya. Sopanlah sedikit. Just keep your sin within you. Jangan mengajak teman-temanmu untuk lepas hijab!

Sebenarnya, pernah beberapa kali aku berbincang soal ini dengan temanku, sebut saja Kaka. Kaka adalah perempuan dengan masa lalu setomboi aku.

“Temen gue ada yang lepas hijab,” celetukku kala itu, sembari memainkan instagram.

“Sabar, ya.” Jawabnya tersenyum sinis.

“Untung lu nggak ikut-ikutan lepas hijab.”

“Kalo gue lepas hijab, lu masih mau jadi temen gue nggak?”

“Emm,” Kaka berpikir, “tergantung. Kalo lu masih inget gue, ya, berarti gue masih temenan sama lu.”

Aku tertawa. Dia juga.

“Gue aja sekarang kalo keluar kamar nggak pake hijab, rasanya leher gue ada yang mau megang gitu,” katanya.

“Sama.” Sahutku, mengakhiri penjelajahan di Instagram. “Tapi udah ada tiga cowok bukan mukhrim yang lihat rambut gue. Semua itu karena pas mereka dateng ke kosan gue, bener-bener dadakan dan cuma bentar.”

“Diitung segala,” ejeknya. “Gue udah banyak sih, karena dulu banyak anak cowok yang main ke rumah. Tapi cuma di rumah, gue nggak keluar ke mana-mana tanpa hijab.”

“Tapi kita tetep dosa.”

“Ya, udah, mau gimana lagi. Kan, udah kejadian. Gue juga rada nyesel dulu pernah buka hijab. Yang penting, kita nggak ngelakuin lagi.”

“Iya, sih.”

Miris. Kami hanya ingin memperbaiki diri. Banyak dari teman kami yang mengekspos wajahnya yang tidak berhijab. Tapi, kami sendiri pun masih belum bisa menutupi diri dengan baik. Banyak wanita-wanita muda yang memakai hijab dengan santun dan menutup dada, tapi aku dan Kaka masih di tahap menutupi kepala dan leher. Tapi setidaknya, kami sudah berjuang.

Kami tidak begitu mengkhawatirkan teman-teman kami yang tidak berhijab. Toh, dia sudah tahu kalau sudah menstruasi berarti sudah wajib berhijab. Toh, teman-teman di sekitarnya juga mendukungnya untuk berhijab. Yang jelas, aku dan Kaka akan berusaha jadi kawan yang baik bagi sahabat kami.

Satu lagi, kebahagiaan yang membuatku merasa beruntung memakai hijab.

Karena, laki-laki itu menyukai perempuan yang berhijab.

Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
= 3 + 1